saco-indonesia.com, Empat kali beraksi, kawanan perampok truk telah dibekuk oleh aparat Jatanras Polda Metro Jaya. Dalam aksinya komplotan bandit yang beranggotakan empat orang ini kerap menyasar truk yang bermuatan barang dengan modus berpura-pura menumpang.

Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan juga menyebutkan keempat pelaku yang dibekuk masing-masing, Erwandi alias Andi, 29, Iwan Setiawan alias Iwan, 23, Kusnadi alias Engkus, 21, dan Juli Erwan, 20. Aksi terakhir kawanan garong ini telah dilakukan terhadap truk kontainer yang bermutan sabun dan sampo pada 26 September 2013 lalu.

“Mereka naik truk dari Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulogadung dengan berpura-pura menumpang,” kata Herry. Kemudian sebelum truk masuk ke jalan tol, mereka mulai beraksi. Satu pelaku yang telah membawa senjata tajam  berupa clurit, menodong sopir dan kernet. Sementara pelaku lain mengikat dan melakban awak truk. “Kemudian, kemudi diambil alih oleh pelaku “Korban kemudian dibuang di pinggir tol, sementara para pelaku telah membawa truk tersebut,” kata Herry.

Truk yang bermuatan perlengkapan mandi itu kemudian telah diarahkan oleh para pelaku ke daerah Pondok Gede, Bekasi untuk dapat dijual muatannya. “Para pelaku kita bekuk pada 15 Desember lalu setelah korban melaporkan kejadian itu,”. Dalam pemeriksaan kawanan bandit ini juga mengaku sudah  4 kali beraksi. “Tersangka Juli pernah ditahan di LP Paledang karena kasus penodongan dengan senjata tajam, kemudian pembunuhan, curas dan kepemilikan senjata tajam,” tutur Herry.


Editor : Dian Sukmawati

KAWANAN PERAMPOK TRUK DITANGKAP OLEH POLISI

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »