JAKARTA, Saco-Indonesia.com - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku terkejut mendengar informasi bahwa harga jengkol di sejumlah pasar menembus Rp 50.000 setiap kilogramnya.

"Waduh...kenapa mahal seperti itu. Padahal, jengkol itu makanan kesukaan istri saya. Kalau begitu kasihan dong istri saya," kata Dahlan, usai mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR-RI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (3/6/2013).

Menurut Pria kelahiran Magetan, Jatim, dirinya tidak mempermasalahkan kenaikan harga jengkol hingga melebihi harga daging ayam. "Saya tidak suka jengkol soalnya, tapi kalau pete (petai) saya suka. Harga pete naik gak yah?" ujar mantan Dirtu PLN ini sembari bertanya kepada wartawan.

Ia menuturkan, kalau harga jengkol melambung tentunya yang kewalahan adalah sang istri Ny Nafsiah Sabri. "Istri saya doyan jengkol. Dia selalu membeli jengkol dalam jumlah banyak untuk persediaan," ujar mantan wartawan ini, sambil tersenyum.

Mantan Dirut PT PLN itu menuturkan ketika berbelanja di pasar Santa, kawasan Kebayoran Baru, istrinya selalu membeli jengkol 5 kilogram sekaligus.

Sebelumnya diberitakan, harga jengkol di sejumlah pasar di Jabodetabek dan sekitarnya sudah mencapai Rp 50.000 perkilogram. Jengkol yang dalam bahasa latin disebut dengan "archidendron pauciflorum", bahkan sudah melonjak hingga sekitar 100 persen di sejumlah lokasi. Kenaikan harga jengkol ternyata juga diikuti harga pete yang melonjak tajam.

Namun, menanggapi harga jengkol yang melangit tersebut, Dahlan mengaku harus ikut berbagi pemikiran bagaimana solusi menurunkan harganya. "Harus ada solusinya. Bila perlu BUMN membentuk perusahaan khusus untuk mengembangkan tanaman jengkol. Bisa saja dibentuk PTPN XIV yang mengurusi jengkol dan pete," ujar Dahlan bercanda sambil berlalu memasuki kendaraannya.

Untuk diketahui saja, jumlah BUMN Perkebunan saat ini hanya sampai dengan PTPN IV.

Sumber : ANT/Kompas.com
Editor :Liwon Mmaulana
Harga Jengkol Rp 50.000, Dahlan: Apa Perlu BUMN Kembangkan Jengkol?

Artikel lainnya »