saco-indonesia.com,
Cara Membuat Balon Udara Sederhana

Cara untuk membuatnya pertama yang harus kita lakukan adalah dengan memotong tas kresek menjadi lembaran-lembaran yang nantinya akan disatukan. Potong lembaran kresek untuk menjadi bentuk segi empat.
Satukan tiap-tiap lembar kresek dengan menggunakan lilin. Caranya seperti kalau orang yang membungkus krupuk dengan plastik, 2 sisi plastik harus direkatkan dengan cara dibakar pakai lilin. Hati-hati karena tahap ini yang paling telah menyita waktu dan butuh teliti, salah sedikit kresek bisa bolong karena terbakar. Pelan-pelan aja yang penting jadi. Agar lebih mudah, bisa gunakan lidi. Ukurannya dikira-kira dengan ukuran plastik yang dipakai, yang diharapkan hasil akhirnya akan membentuk seperti tabung dengan diameter lebih dari 30cm, umumnya diameter 50cm sudah bagus dengan ketinggian 1m lebih.
Setelah jadi, tahap berikutnya adalah dengan membuat tutup untuk bagian atasnya. Buat dari beberapa lembar kresek yang akan disatukan, kemudian diukur berapa yang dibutuhkan untuk dapat membuat tutup atas. Satukan dengan lilin seperti sebelumnya.
Badan balon sudah jadi, tinggal membuat bagian bawah yang nantinya akan dipakai untuk dapat mengaitkan gombal. Bahannya juga bisa dari bambu atau kawat, yang penting adalah ringan. Bentuk seperti lingkaran dengan diameter kurang dari diameter tabung yang dibuat tadi. Semisal tabung dari kresek dibuat 50cm, maka lingkaran bawah harus dibuat menjadi 30cm. Kemudian, tengahnya harus diberi kawat yang membentuk tanda plus.

Selesai, kemudian satukan kresek dengan lingkaran masih dengan menggunakan cara biasa yaitu dengan bantuan dibakar lilin. Mungkin bingung kenapa jika diameter tabung 50cm kok lingkarannya 30cm. Sebenarnya sebelum disatukan, tabung dari kresek tadi dipotong dulu agar diameter bawah sesuai dengan diameter lingkaran bambu. Tujuannya agar balon bisa terlihat lebih gembung.

Bagian yang ada garis putus-putus adalah yang perlu dipotong, kemudian disambung lagi dengan dibakar lilin.
Nah, jadilah balon sedehana. Siapkan gombal yang dibentuk seperti bola, lalu diikat dengan kawat agar tidak berubah bentuk. Rendam dalam minyak goreng. Direkomendasikan, langkah ini juga dilakukan sehari sebelum membuat balon, karena semakin lama direndam, maka minyak yang dihisap gombal juga makin banyak. Artinya gombal bisa menyala lebih lama.

Berikutnya adalah saat yang ditunggu, menerbangkan balon. Siapkan dahan-dahan pohon atau daun kering untuk dibakar. Biasanya digunakan daun kelapa, jika tidak ada sesuaikan saja, yang penting bisa menghasilkan api yang besar. Daun dibakar mengeluarkan asap, usahakan asap masuk ke dalam balon.

Jika balon sudah mengembang dan dirasa sudah bisa terbang, kaitkan gombal ke tengah kawat dan nyalakan. Balon siap dilepaskan.


Editor : Dian Sukmawati

CARA MEMBUAT BALON UDARA
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »